Senin, 18 November 2013

TUJUAN UMUM PENDIDIKAN

TUJUAN UMUM PENDIDIKAN

Tujuan pendidikan sejati tidaklah hanya mengisi ruang-ruang imajinasi dan intelektual anak, mengasah kepekaan sosialnya, ataupun memperkenalkan mereka pada aspek kecerdasan emosi tetapi lebih kepada mempersiapkan mereka untuk mengenal Tuhan dan sesama untuk pencapaian yang lebih besar bagi kekekalan.
Tujuan pendidikan secara umum dapat dilihat pada:

·         UU No2 Tahun 1985 yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia yang seutuhnya yaitu yang beriman dan dan bertagwa kepada tuhan yang maha esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan      rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung  jawab kemasyarakatan dan berbangsa.

·         Tujuan Pendidikan nasional menurut TAP MPR NO II/MPR/1993 yaitu Meningkatkan kualitas manusia Indonesia, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, mandiri, maju, tangguh, cerdas, kreatif, terampil, berdisiplin, beretos kerja profesional serta sehat jasmani dan rohani . Pendidikan nasional juga harus menumbuhkan jiwa patriotik dan memepertebal rasa cinta tanah air, meningkatkan semangat kebangsaan dan kesetiakawaan sosial, serta kesadaran pada sejarah bangsa dan sikap menghargai jasa para pahlawan, serta berorientasi masa depan.

·         TAP MPR No 4/MPR/1975, tujuan pendidikan adalah membangun di bidang pendidikan didasarkan atas falsafah negara pancasila dan diarahkan  untuk membentuk manusia-manusia pembangun yang berpancasila dan untuk membentuk manusia yang sehat jasmani dan rohaninya, memiliki pengetahuan dan keterampilan yang dapat mengembangkan kreatifitas dan tanggung jawab dapat menyuburkan sikap demokratis dan penuh tenggang rasa dapat mengembangkan kecerdasan yang tinggi dan disertai budi pekerti yang luhur, mencintai bangsanya dan mencintai sesama manusia sesuai dengan ketentuan yang termaktub dalam UUD 1945, Bab II (Pasal 2, 3, dan 4)


TUJUAN INSTITUSIONAL

VISI SD MUHAMMADIYAH SAPEN
Membentuk Pribadi Muslim yang Unggul, Berakhlak Mulia, Berbudaya dan Berwawasan Global.

MISI SD MUHAMMADIYAH SAPEN
1.      Melaksanakan pembelajaran dan bimbingan secara efektif sehingga potensi siswa dapat berkembang secara optimal.
2.      Memberikan kesempatan untuk mengembangkan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor guna pembentukan insan pemecah masalah.
3.      Mengembangkan pembelajaran berbasis IT dan kemampuan berbahasa asing.
4.      Mengembangkan budaya disiplin dan etos kerja yang tinggi.
5.      Membentuk lingkungan pendidikan di sekolah yang mampu menumbuhkan dan meningkatkan kualitas keagamaan siswa.
6.      Membangkitkan semangat berprestasi seluruh warga sekolah.
7.       Menumbuhkan kesadaran dan kepedulian terhadap lingkungan.
8.      Meningkatkan manajemen partisipatif yang melibatkan siswa, guru, orangtua dan stakeholder sekolah. 




STRATEGI MENCAPAI VISI MISI

·         Menginventarisir dan mengkaji sumberdaya yang ada di SD Muhammadiyah Sapen Yogyakarta .
·         Memantapkan program pembinaan prestasi siswa.
·         Melibatkan Komite Sekolah untuk memperoleh masukan dan dukungan demi terlaksananya program sekolah.
·         Menjalin kerjasama dengan berbagai pihak / instansi-instansi terkait dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
·         Mengembangkan bidang garapan vocasional, seperti Kemampuan berbahasa Inggris, Olah raga,dan penguasaan IT.
·         Menumbuhkan kesadaran tentang pentingnya lingkungan hidup.

PEMBELAJARAN
Proses belajar mengajar di SD Muhammadiyah Sapen diseimbangkan antara tiga ranah pendidikan yaitu afeksi, kognisi, dan psikomotor sehingga diharapkan dapat menghasilkan peserta didik yang menguasaii keimanan dan ketakwaan (IMTAK) serta ilmu pengetahuan (IPTEK) sesuai dengan visi dan misi sekolah.









Beberapa kegiatan penunjang dalam proses belajar mengajar adalah:

·         Pembinaan khusus membaca Al-Quran: program ini menggunakan metode Iqra untuk kelas 1 yang belum dapat membaca Al-Quran.
·         Tes psikologi untuk siswa: kelas 2 untuk mengetahui tingkat IQ siswa dan akan menentukan penanganan peserta didik secara berkelanjutan tes ini dilakukan di kelas II.
·         Tadarus dan hafalan Al-Quran: program ini dilakukan setiap pagi sebelum dimulai pelajaran mulai dari kelas I sampai kelas VI secara berjenjang.
·         Pelajaran tambahan: Program ini ditujukan bagi peserta didik yang memiliki ketertinggalan dalam mengikuti pelajaran di kelas.
·         Program Home visit: program ini dilaksanakan untuk membantu siswa kelas VI dalam persiapan Ujian baik USDA/UNAS.
·         Kelas patas: program ini dinamakan juga akselerasi diperuntukkan bagi anak-anak yang memiliki kemampuan afeksi, kognisi, dan psikomotor di atas rata-rata.
·         Pengelompokan kelas: program ini dilakukan untuk memudahkan dalam penanganan peserta didik. Mereka akan dikelompokkan sesuai nilai rapot yang diperoleh tiap semester.
·         Bimbingan psikolog: setiap hari Sabtu sekolah menyediakan psikolog guna konsultasi hambatan belajar siswa.
·         Konsultasi prestasi siswa: program ini dilaksanakan guna mewujudkan keberhasilan pembelajaran melalui kerja sama sekolah dengan orang tua/wali siswa. Program ini dilaksanakan setiap ahad pagi. Selain mendatangkan narasumber, orang tua juga dapat sharing dengan wali kelas tentang perkembangan putra-putrinya.





TUJUAN KURIKULER

BAHASA INDONESIA
Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi Republik Indonesia dan bahasa persatuan bangsa Indonesia. Bahasa Indonesia diresmikan penggunaannya setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, tepatnya sehari sesudahnya, bersamaan dengan mulai berlakunya konstitusi. Di Timor Leste, bahasa Indonesia berstatus sebagai bahasa kerja.
Dari sudut pandang linguistik, bahasa Indonesia adalah salah satu dari banyak ragam bahasa Melayu. Dasar yang dipakai adalah bahasa Melayu Riau (wilayah Kepulauan Riau sekarang) dari abad ke-19. Dalam perkembangannya ia mengalami perubahan akibat penggunaanya sebagai bahasa kerja di lingkungan administrasi kolonial dan berbagai proses pembakuan sejak awal abad ke-20. Penamaan "Bahasa Indonesia" diawali sejak dicanangkannya Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928, untuk menghindari kesan "imperialisme bahasa" apabila nama bahasa Melayu tetap digunakan. Proses ini menyebabkan berbedanya Bahasa Indonesia saat ini dari varian bahasa Melayu yang digunakan di Riau maupun Semenanjung Malaya. Hingga saat ini, Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang hidup, yang terus menghasilkan kata-kata baru, baik melalui penciptaan maupun penyerapan dari bahasa daerah dan bahasa asing.


TUJUAN PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA
Belajar bahasa pada hakikatnya adalah belajar komunikasi. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa diarahkan untuk meningkatkan kemampuan pebelajar dalam berkomunikasi, baik lisan maupun tulis (Depdikbud, 1995). Hal ini relevan dengan kurikulum 2004 bahwa kompetensi pebelajar bahasa diarahkan ke dalam empat subaspek, yaitu membaca, berbicara, menyimak, dan mendengarkan.
Sedangkan tujuan pembelajaran bahasa, menurut Basiran (1999) adalah keterampilan komunikasi dalam berbagai konteks komunikasi. Kemampuan yang dikembangkan adalah daya tangkap makna, peran, daya tafsir, menilai, dan mengekspresikan diri dengan berbahasa. Kesemuanya itu dikelompokkan menjadi kebahasaan, pemahaman, dan penggunaan. Sementara itu disebutkan bahwa tujuan pemelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia secara umum meliputi
(1) siswa menghargai dan membanggakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan (nasional) dan bahasa negara,
(2) siswa memahami Bahasa Indonesia dari segi bentuk, makna, dan fungsi,serta menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk bermacam-macam tujuan, keperluan, dan keadaan,
(3) siswa memiliki kemampuan menggunakan Bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual, kematangan emosional,dan kematangan sosial,
(4) siswa memiliki disiplin dalam berpikir dan berbahasa (berbicara dan menulis),
(5) siswa mampu menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk mengembangkan kepribadian, memperluas wawasan kehidupan, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa
(6) siswa menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia.










TUJUAN INTRUKSIONAL

POKOK BAHASAN
MEMBACA
Membaca adalah suatu cara untuk mendapatkan informasi dari sesuatu yang ditulis. Membaca melibatkan pengenalan simbol yang menyusun sebuah bahasa. Membaca dan mendengar adalah 2 cara paling umum untuk mendapatkan informasi. Informasi yang didapat dari membaca dapat termasuk hiburan, khususnya saat membaca cerita fiksi atau humor.
Sebagian besar kegiatan membaca sebagian besar dilakukan dari kertas. Batu atau kapur di sebuah papan tulis bisa juga dibaca. Tampilan komputer dapat pula dibaca.
Membaca dapat menjadi sesuatu yang dilakukan sendiri maupun dibaca keras-keras. Hal ini dapat menguntungkan pendengar lain, yang juga bisa membangun konsentrasi kita sendiri.

SUBPOKOK BAHASAN
METODE LANCAR MEMBACA
Kelemahan pada umumnya dalam belajar membaca adalah terlalu memaksakan kepada anak. Misalnya dalam usia 3 atau 4 tahun sudah diajarkan membaca dengan cara yang salah dan memaksakan diri. Anak dipaksa dengan tulisan-tulisan yang asing bagi mereka, dan dijejali dengan beban-beban memori yang memberatkan mereka. Ini tidak baik bagi perkembangan anak. Karena seorang anak harus kita pahami bahwa mereka memiliki beberapa komponen dasar kehidupan yang juga sama-sama sedang berkembang. Misalnya komponen kecerdasan, komponen memori otak, komponen fisik, komponen perasaan, komponen pengalaman, komponen kegembiraan bermain, komponen spiritual dan berbagai komponen serta aspek lainnya. Perkembangan salah satu komponen tidak boleh menyebabkan terhambatnya komponen yang lain.
Sebenarnya yang menjadi masalah bukanlah seorang anak itu tidak boleh diajarkan membaca sejak dini saat berusia 3 atau 4 tahun. Tapi masalahnya adalah kebanyakan cara yang digunakan adalah membebani mereka dari berbagai sisi, sehingga menimbulkan ketidakserasian. Seandainya ada metoda yang secara alamiah dan tidak membebani anak, tapi dapat mengantarkan anak menjadi bisa membaca, maka itu tidak ada masalah untuk digunakan, sah-sah saja. Seperti saat sambil bermain anak bisa membedakan warna merah biru kuning. Mereka tidak dipaksa untuk menghafalnya, tetapi timbul secara alamiah. Itu sah-sah saja. Sekarang, adakah cara yang tidak membebani, tapi dapat mengantarkan anak bisa membaca? jawabnya : Selalu ada cara. Insya Allah.
Anda tentu mengenal Metode Iqro’ cara cepat membaca huruf Alquran? itu juga sebuah contoh yang baik dalam penerapan pendekatan modern untuk mengajarkan anak membaca huruf Alquran. Hasilnya sangat spektakuler, anak berusia 4 s/d 7 tahun sudah bisa membaca Al-Quran, lengkap dengan kaidah-kaidah bacanya yang sangat rumit. Demikian pula dengan Metoda Fasih cara cepat membaca huruf latin. Keduanya sebetulnya menerapkan pendekatan yang modern dan update dalam pengajaran kepada anak usia dini. Namun ditampilkan dengan penampilan yang familiar dan user friendly. Sehingga nyaman dan mudah bagi anak maupun bagi pengajarnya.

Berdasarkan pengalaman,rata-rata anak bisa membaca kata-kata sederhana dalam 6 jam belajar. Disarankan anak tidak sekaligus belajar dalam 6 jam secara langsung, akan tetapi dicicil setiap hari. Misalnya setiap hari 10 menit, maka anak akan bisa membaca dalam 36 hari (360 menit) , supaya pengendapan materi lebih mantap. Tetapi jika anak nampaknya enjoy dan ingin dilanjutkan serta menguasai, boleh dilanjutkan terus sekaligus.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar