makalah organisasi, administrasi, manajemen dan kepemimpinan
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dewasa ini lembaga pendidikan Islam berkembang sebagai lembaga yang semakin kompleks sehingga ia membutuhkan organisasi yang tertata dengan baik dan benar. Kompleksitas lembaga pendidikan Islam terutama terlihat dari kebutuhan akan pengelolaan pelaksanaan pendidikan dengan pendekatan manajeman. Itulah kebutuhan untuk mengunakan pendekatan ilmu manajemen di lembaga pendidikan khususnya lembaga pendidikan Islam menjadi mutlak. Sehingga perkembangan administrasi pendidikan menjadi bagian yang menarik bagi kalangan praktisi dan ahli pendidikan sampai sekarang ini.
Kepemimpinan kepala sekolah sebagai agen perubahan dalam sekolah mempunyai peran aktif dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Untuk meningkatkan kualitas pengelolaan sekolah maka kepala sekolah sebagai pemimpin harus mampu mempunyai leadership yang baik. Kepemimpinan yang baik adalah kepala sekolah yang mampu dan dapat mengelolah sumber daya pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan. Kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran dan sumber daya manusia hendaknya mampu menciptakan iklim organisasi yang baik agar semua komponen sekolah dapat memerankan diri secara bersama untuk mencapai sasaran dan tujuan organisasi.
Dengan demikian, keberadaan kepemimpinan, manajemen, administarsi dan organisasi dalam lembaga pendidikan tidak bisa dipisahkan dalam rangka mengembangkan dan memajukan lembaga pendidikan tersebut. Komponen-komponen tersebut (kepemimpinan, manajmen, administarai dan organisasi) merupakan satu kesatuan yang memiliki hubungan yang erat dan tidak bisa dipisahkan satu sama lainnya. Dalam proses kegiatan dan pemgembangan lembaga pendidikan, empat komponen tersebut merupakan alat untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai. Apabila salah satu dari empat komponen tersebut diabaikan, maka akan mempengaruhi terhadap komponen yang lainnya sehingga berdampak terhadap keberadaan lembaga pendidikan. Oleh sebab itu, antara kepemimpinan, manajemen, administrasi dan organisasi memiliki hubungan yang saling mendukung dalam sebuah lembaga pendidikan demi mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
B. Rumusan masalah
A. Apa pengertian dari kepemimpinan dan apa saja komponen yang terdapat di dalamnya ?
B. Apa pengertina dari manajemen dan apa saja komponen yang terdapat di dalamnya ?
C. Apa pengertian dari administrasi dan apa saja komponen yang terdapat di dalamnya ?
D. Apa pengertian dari organisasi dan apa saja komponen yang terdapat di dalamnya ?
C. Tujuan masalah
A. Untuk mengetahui pengertian dari kepemimpinan dan komponen yang terdapat di dalamnya
B. Untuk mengetahui pengertian dari manajemen dan komponen yang terdapat didalamnya
C. Untuk mengetahui pengertian dari administrasi dan komponen yang terdapat di dalamnya
D. Untuk mengetahui pengertian dari organisasi dan komponen yang terdapat di dalamnya
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Kepemimpinan Pendidikan
Istilah kepemimpinan pendidikan mengandung dua pengertian, dimana kata pendidikan menerangkan di lapangan apa dan di mana kepemimpinan itu berlangsung, dan sekalaigus menjelaskan pula sifat dan ciri-ciri kepemimpinan, yaitu bersifat mendidik dan membimbing. Sebagaimana kata pendidikan yang menunjukkan arti yang dapat dilihat dari dua segi, yaitu[1]
1. pendidikan sebagai usaha atau proses pendidik dan mengajar seperti yang dikenal sehari-hari
2. pendidikan sebagai ilmu pengetahuan yang membahas berbagai masalah tentang hakikat dan kegiatan mendidik mengajar dari zaman ke zaman atau yang membahas prinsip-prinsip dan pratik-praktik mendidik dan mengajar dengan segala cabang-cabangnya yang telah berkembang begitu luas dan mendalam.
Dari dual hal tersebut, maka dapat dijelaskan bahwa kepemimpinan pendidikan pada dasarnya terdapat dan berperan pada usaha-usaha yang berhubungan dengan proses mendidik dan mengajar di satu pihak, dan pada pihak lain berhubungan dengan usaha-usaha pengembangan pendidikan sebagai satu ilmu dengan segala cabang-cabangnya dan ilmu-ilmu pembantu lainnya.
Kepemimpinan dalam lembaga pendidikan sangat berperan penting dalam mengembangkan seluruh sumber daya yang ada termasuk sumber daya manusia (SDM), oleh karena itu, para pakar pendidikan mencoba mengartikan kepemimpinan pendidikan, yaitu:
- Nawawi (1994:82), mengatakan bahwa kepemimpinan pendidikan adalah proses menggerakkan, mempengaruhi, memberikan motivasi, dan mengarahkan orang-orang di dalam organisasi atau lembaga pendidikan tertentu untuk mencapai tujuan yang telah dirumuskan sebelumnya. Untuk mewujudkan tugas terebut, setiap pimpinan pendidikan harus mampu bekerja sama dengan orang-orang yang dipimpinnya untuk memberikan motivasi agar melakukan pekerjaannya secara ikhlas[2]
- Fachrudi (1983: 33), mengatakan bahwa kepemimpinan pendidikan adalah suatu kemampuan dalam proses mempengaruhi, mengkoordinir orang-orang lain yang ada hubungannya dengan ilmu pendidikan dan pelaksanaan pendidikan dan pengajaran, agar kegiatan-kegiatan yang dijalankan dapat berlangsung lebih efisien dan efektif di dalam pencapaian tujuan-tujuan pendidikan dan pengajaran.
- Sedangkan Assosiation of Supervision and curiculum Development (ASCD), menyatakan bahwa kepemimpinan pendidikan adalah tindakan atau tingkah laku di antara individu-individu dan kelompok-kelompok yang menyebabkan mereka bergerak kearah tercapainya tujuan-tujuan pendidikan yang menambahkan penerimaan bersama bagi mereka.
. Pemimpin pada hakikatnya adalah seseorang yang mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi perilaku orang lain di dalam kerjanya dengan menggunakan kekuasaan. Kekuasaaan adalah kemampuan untuk mengarahkan dan mempengaruhi bawahan sehubungan dengan tugas-tugas yang harus dilaksanakannya. Semakin banyak jumlah sumber kekuasaan yang tersedia bagi pemimpin, maka makin besar potensi kepemimpinan yang efektif.[3]
1. Pendekatan Dalam Kepemimipinan
Menurut kodrat serta irodatnya bahwa manusia dilahirkan untuk menjadi pemimpin. Sejak Adam diciptakan sebagai manusia pertama dan diturunkan ke bumi, ia ditugasi sebagai khalifah Allah di muka bumi ini. Sebagaimana firman Allah yang berbunyi:
øŒÎ)ur tA$s% š•/u‘ Ïps3Í´¯»n=yJù=Ï9 ’ÎoTÎ) ×@Ïã%y` ’Îû ÇÚö‘F{$#Zpxÿ‹Î=yz ( (#þqä9$s% ã@yèøgrBr& $pkŽÏù `tB ߉šøÿム$pkŽÏùà7Ïÿó¡o„ur uä!$tBÏe$!$# ß`øtwUur ßxÎm7|¡çR x8ωôJpt¿2 â¨Ïd‰s)çRur y7s9( tA$s% þ’ÎoTÎ) ãNn=ôãr& $tB Ÿw tbqßJn=÷ès? ÇÌÉÈ
Artinya:
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui. (QS. al-Baqarah: 30)
Sebagai pemimpin di muka bumi, berdasarkan firman Allah tersebut, manusia harus memliki kemampuan dalam kepemimpinannya. Ada beberapa pendekatan dalam mengkaji kepemimpinan, yaitu:
a. Pendekatan Sifat-Sifat Kepemimpinan
Usaha yang pertama kali dilakukan oleh psikolog dan peneliti untuk memahmi kepemimpinan yaitu mengenali karakteristik atau ciri-ciri para pemimpin yang berhasil. Penelitian masa itu ditunjukan untuk mengetahui sifat-sifat pemimpin yang mencaku: intelektualitas, hubungan sosial, kemampuan emosional, keadaan fisik, imajinasi, kekuatan jasmani, kesabaran, kemampuan berkorban, dan kemampuan bekerja keras. Ciri-ciri tersebut harus dimiliki oleh seorang pemimpin.
b. Pendekatan Perilaku
Pendekatan perilaku memandang bahwa kepemimpinan dapat dipelajari dari pola tingkah laku, dan bukan dari sifat-sifat (traits) pemimpin. Alasannya sifat seseorang relatif sukar untuk diidentifikasi. Beberapa pandangan ahli, antara lain James Owen (1973) berkeyakinan bahwa perilaku dapat dipelajari, hal ini berarti bahwa orang yang dilatih dalam perilaku kepemimpinan yang tepat akan dapat memimpin secara efektif. Namun demikian hasil penelitian telah membuktikan bahwa perilaku kemimpinan yang cocok dalam satu situasi belum tentu sesuai dengan situasi yang lain.
c. Pendekatan Situasional
Pendekatan situasional berpandangan bahwa keefektifan kepemimpinan bergantung pada kecocokan antara pribadi, tugas, kekuasaan, sikap dan persepsi. Pendekatan ini berusaha mengenali faktor-faktro yang paling penting dalam seperangkat situasi tertentu, dan meramalkan gaya kepemimpinan yang paling efektif dalam situasi seperti itu.
B. Pengertian Manajemen
Meskipun cenderung mengarah pada satu fakus tertentu, para ahli masih berbeda pandangan dalam mendefinisikan manajemen dan kerenanya belum dapat diterima secara universal. Manajemen merupakan pemanfaantan sumber-sumber yang tersedai atau yang berpotensi di dalam pencapaian tujuan. Adapun yang dimaksud dengan sumber daya manajemen dalam lembaga pendidikan yaitu: Man (orang), Money (uang), Material (material), Machine(peralatan/mesin), Method (metode), dan Time (waktu)[4]
Dari beberapa penjelasan diatas pada dasarnya manajemen dapat diartikan berdasarkan beberapa pendapat, yaitu:
- Longnecker & Pringle, merumuskan manajemen sebagai proses memperoleh dan menggabungkan sumber-sumber manusia, finansial dan fisik untuk mencapai tujuan pokok organisasi menghasilakn prosduk atau jasa/layanan yang diinginkan oleh sekelompok masyarakat.
- Siagan (1978), menyebutkan menajemen adalah kemampuan dan keterampilan untuk memperoleh suatu hasil dalam rangka pencapaian tujuan melalui kegiatan-kegiatan orang lain. Gr. Terry dalam bukunya principles of management (1972) menyebutkan bahwa manajemen meruapakan suatu proses yang khas yang terdiri dari tindakan-tindakan perencanaan, pengorganisasian, penggerakkan dan pengendalian yang dilakukan untuk menentukan serta mencapai sasaran-sasaran yang telah ditentukan melalui pemanfaatan sumber daya lainnya.
- Manajemen adalah suatu proses/kegiatan/usaha pencapaiann tujuan tertentu melalui kerja sama dengan orang lain, di mana dapat dimanfaatkan dan dgunakan sebagai sumber dan sasaran-sasaran manajemen.
- Manajemen adalah suatu kerangka kerja yang terdiri atas berbagai bagian/komponen yang secara keseluruhan saling berkaitan dalam organisasi yang sedemikan rupa dalam mencapain tujuan (management as a system).
1. Beberapa Tinjauan Terhadap Manjemen
Dalam menjelaskan tentang manajmen dapat ditinjau dari bebrapa segi (applied approach), yaitu:
Segi Sifat Kerja
Dari segi sifat kerja, manajemen dapat digolongkan menjadi sebagai berikut:
- Manajemen administratif (administrative mangement), yaitu manajmen atau pejabat pimpinan yang kerjanya menitikberatkan dalam bidang pemikiran (kerja pikir). Maksudnya adalah suatu pendekatan dari pempinan atas sampai ke tingkat pimpinan yang terbawah sekalipun, termasuk para pekerjanya.
- Manajemen operatif (oprative management), yaitu manajemen atau pejabat pempinan yang langsung memimpin kerja ke arah tercapainya kerja yang nyata. Makdunya adalah pendekatan dari bawah ke tingkat yang lebih atas, adapaun titik beratnya adalah efisien dan produktivitas para pelaksananya yang terdapat di tingkat bawah.
- Manajemen administratif dan manajemen operatif (pejabat manajemen yang hidup dalam dua dunia). Artinya adalah bahwa pada suatu saat pemimpin dapat sebagai manajemen administrative dan pada kesempatan lain duduk sebagai manajemen operatif.
Segi Luasnya
Segi luas atau ruang lingkup, manajemen pendidikan terdiri dari beberapa, antara lain yaitu:
- Makro Manajemen, yaitu manajemen apda umumnya terdapat dalam bidang kenegaraan, pendidikan dan perusahaan.
- Mikro manajemen, yaitu manajemen dalam bidang /lingkungan yang lebih khusus daripada makro manajemen seperti manajemen kantor personalia, pergudangan dan alat.
- Segi Pandangannya
Dari berbagai sudut pandangan, maka manajemen pendidikan dapat dibedakan atas beberapa tinjauan sebagai berikut:
- Manajemen sebagai proses, yaitu merupakan proses dari pemberian fasilitas-fasilitas, pimpinan, teladan, bimbingan kepada orang-orang yang terorganisasi dalam satu kesatuan yang telah ditetapkan tujuannya (a desire goal). Dari sudut proses ini, manajemen dapat pula diartikan sebagai keseluruhan proses perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan pengawasan atau pengendalian sampai tujuan yang dikehendaki menjadi kenyataan.
- Manajemen sebagai kolektivitas, yaitu bahwa tiap-tiap kita menjalankan manajemen, bukan hanya manajer puncak (top manager) atau pimpinan tunggal semata, tetapi semua pejabat pempinan dari rektur utama sampai kepada kepala-kepala bagian, kepala-kepala sub.seksi, kepala-kepala urusan dan bahkan kepala-kepala pesuruh. Dengan demikian, dalam manajemen sebagai kolektivitas menurut penulis, pekerjaan/usaha tadi dapat dilaksanakan secara bersama-sama dengan lancar demi tercapainya tujuan yang bersama diinginkan.
- Manajemen sebagai kerangka wewenang dan tanggung jawab. Sudah menjadi kelaziman, bahwa siapa saja yang mempunyai wewenang harus selalu didampingi dengan tanggung jawab, dan di dalam organisasi manapun ada orang-orang yang mempunyai wewenang lebih daripada yang lain.
- Manajemen sebagai kegiatan (aktivitas), yaitu manajemen sebagai kegiatan bukanlah kegiatan dari masing-masing orang/bagian/baidang secara sendiri-sedniri, tetapi merupakan kesatuan kegiatan dari seluruh bidang-bidang pekerjaan yang diadakan dan dilaksanakan demi tercapainya tujuan bersama. Guna mencapai tujuan bersama itu ada beberapa cara untuk menggerakan orang-orang/bagian-bagian yang ada dalam lingkunagn organisasi, antara laian dengan menggalang rasa kesetiakawanan, yaitu dengan dorongan dan memberikan penghargaan kepada masing-masing bagian, sehingga menimbulkan anggapan bahwa tiap-tiap bagian itu mempunyai fungsi dan peranan penting.
2. Fungsi Manajemen
Mengenai fungsi-fungsi manajemen ini terdapat banyak sekali pandangan-pandangan yang berbeda satu sama lain di kalangan para ahli. Namun secara garis besar, fungsi-fungsi manajemen yaitu:
a. Perencanaan (Planning)
Perencanaan merupakan salah satu hal terpenting yang perlu dibuat untuk setiap usaha dalam rangka mencapai suatu tujuan. Karena seringkali pelaksanaan suatu kegiatan akan mengalami kesulitan dalam mencapai tujuan tanpa adanya perencanaan. Perancanaan sendiri adalah penentuan secara matang dan cerdas tentang apa yang akan dikerjakan di masa yang akan datang dalam rangka mencapai tujuan. Anderson dan Bowman (1964) (dalam marno, Triyo Supriyatno 2008), mengatakan bahwa perencanaan adalah proses mempersiapkan seperangkat keputusan bagi perbuatan di masa datang. Definisi ini meninsyaratkan bahwa pembuat keputusan merupakan bagian dari perencanaan, namunproses perencanaan dapat juga terpikir setelah tujuan dan keputusan diambil.[5]
b. Pengorganisasian (Organizing)
Istilah organisasi mempunyai dua pengertian utama. Pertama, organisasi diartikan sebagai suatu lembaga atau kelompok fungsional, misalnya, sebuah perusahaan, sebuah sekolah, sebuah perkumpulan dan badan-badan pemerintahan. Kedua, merujuk pada proses pengorganisasian yaitu bagaimana pekerjaan diatur dan dialokasikan di antara para naggota, sehingga tujuan organisasi itu dapat tercapai secara efektif.[6] Pengorganisasian adalah pengaturan setelah ada rencana. Dalam hal ini diatur dan ditentukan tentang apa tugas pekerjaannya, macam/jenis serta sifat pekerjaan. Dalam pendapat lain, pengorganisasian adalah proses penentuan, pengelompokan dan penyusunan macam-macam kegiatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan, penempatan orang-orang (staf) pada kegiatan-kegiatan ini, penyediaan faktor-faktor fisik yang cocok bagi lingkungan (keperluan kerja).[7]
c. Penggerakan (Actuating)
Penggerakan pada dasarnya merupakan fungsi manajemen yang komplek dan ruang lingkupnya cukup luas serta berhubungan erat dengan sumber daya manusia. Penggerakan merupakan salah satu fungsi terpenting dalam menejemen. Penggerakan adalah hubungan erta antara aspek-aspek individual yang ditimbulkan dari adanya pengaturan terhadap bawahan untuk dapat dimengerti dan pembagian kerja yang efektif dan efesien untuk mencapai tujuan pendidikan yang nyata. Sedangkan Terry (1986) mendefinisikan actuating sebagai usaha menggerakan anggota kelompok sedemikian rupa hingga mereka berkeinginan dan berusaha untuk mencapai sasaran perusahaan yang bersangkutan dan sasaran anggota perusahaan, karena para anggota ingin mencapai sasaran-sasaran tersebut.[8]
d. Pengawasan (Contrilling)
Pada dasarnya rencana dan pelaksanaan merupakan satu kesatuan tindakan, walaupun hal ini jarang terjadi. Pengawasan diperlukan untuk melihat sejauh mana hasil tercapai. Menurut Murdick pengawasan merupakan proses dasar yang secara esensial tetap diperlukan bagaimanapun rumit dan luasanya suatu organisasi. Proses dasarnya terdiri dari tiga tahap (1) menetapkan standar pelaksanaan, (2) mengukur pelaksanaan pekerjaan dibandingkan dengan standar, dan (3) menentukan kesenjangan (deviasi) antara pelaksanaan standar dan rencana.[9]
3. Prinsip-Prinsi Manajemen
Manajemen dipandang sebagai suatu sistem didasarkan pada asumsi bahwa organisasi merupakan sistem terbuka, tujuan organisasi mempunyai kebergantungan. Adapun prinsip-prinsip manajemen berdasarkan sistem yaitu:
a. Prinsip Manajemen Berdasarkan Sasaran (MBS)
Istilah MBS (manajemen berdasarkan sasaran) pertama kali dipepulerkan sebagai suatu pendekatan terhadap perencanaan. MBS merupakan teknik manajemen yang membantu memperjelas dan menjabarkan tahapan tujuan organisasi dan juga dilakukan proses penentuan tujuan bersama antara atasan dan bawahan[10]
b. Prinsip Manajemen Berdasarkan Orang
Manajemen berdasarkan orang merupakan suatu konsep manajemen modern yang mengkaji keterkaitan dimensi perilaku, komponen sistem dalam kaitannya dengan perubahan dan pengembangan organisasi. Tuntutan perubahan dan pengembangan yang muncul sebagai akibat tuntutan lingkungan internal dan eksternal, membawa implikasi terhadap perubahan perilaku kelompok dan wadahnya. Salah satu upaya yang paling penting adalah dengan mengembangkan sumber daya manusia. Namun, pengembangan SDM harus diimbangi dengan pengembangan organisasi.
c. Prinsip Manajemen Berdasarkan Informasi
Perencanaan pengorganisasian, kepemimpinan dan pengawasan merupakan kegiatan manajerial yang pada hakikatnya merupakan proses pengambilan keputusan, semua kegiatan tersebut membutuhkan informasi. Informasi yang dibutuhkan oleh manajer disediakan oleh suatu sistem informasi manajemen (Management Information System/MIS) yaitu suatu sistem yang menyediakan informasi untuk manajer secara teratur. Informasi ini dimanfaatkan sebagai dasar untuk melakukan pemantauan dan penilaian kegiatan serta hasil-hasil yang dicapai.
C. Pengertian Administrasi
Secara etimologis istilah administrasi berasal dari bahasa Inggris dari kata administrationyang berbentuk infinitifnya adalah to administer. Dengan demikian, secara etimologis admnistrasi dapat diartikan sebagai kegiatan memberi bantuan dalam mengelola informasi, mengelola manusia, mengelola harta benda kearah suatu tujuan yang terhimpun dalam organisasi.Administrasi dalam arti sempit merupakan penyusunan dan pencatatan data dan informasi secara sitematis dengan maksud untuk menyediakan keterangan serta memudahkan memperolehnya kembali secara keseluruhan dan dalam hubungannya satu sama lain.
Perkembangan penggunaan istilah dan pengartian administrasi di Indonesia juga masih menunjukkan ketidaksamaan pandangan atau pandangan. Di satu pihak administrasi diartikan sebagai tatausaha dan dilain pihak administrasi diartikan sebagai kegiatan pengelolaan human rasaources dan material resaouces termasuk pengelolaan informasi atau kegiatan tatausaha. Dalam pengertian luas administrasi adalah keseluruhan proses pelaksanaan kegiatan yang dilakukan dua orang atau lebih yang terlibat dalam suatu bentuk usaha kerja sama demi tercapainya tujuan yang ditentukan sebelumnya
Dengan demikian, administrasi dalam artian luas dapat kita tinjau dari tiga sudut pandang pengertian, yaitu:
- Administrasi sebagai proses. Ditinjau dari sudut proses, administrasi merupakan keseluruhan proses yang dimulai dari proses pemikiran, perencanaan, pengaturan, penggerakan/bimbingan, pengawasan sampai proses pencapaian tujuan.
- Admnistrasi sebagai fungsi. Ditinjau dari sudut fungsi atau tugas, admnistrasi bererti keseluruhan tindakan (aktivitas) yang mau tidak mau harus dilakukan dengan sadar oleh seseorang atau kelompok organisasi orang berkedudukan sebagai administrator atau orang yang berkedudukan sebagai manajemen puncak suatu organisasi.
- Administrasi sebagai kepranataan. Administrasi dapat dilihat dan diartikan sebagai suatu lembaga, misalnya PN Pembangunan Perumahan (sekarang PT Pembangunan Perumahan). Ini dilihat dari aktivitas-aktivitas orang-orang di dalamnya dalam perusahaan tersebut.
D. Pengertian Organisasi
Istilah organisasi mempunyai dua pengertian umum. Pertama organisasi diartikan sebagai suatu lembaga atau kelompok fungsional, misalnya, sebuah perusahaan, sebuah sekolah, sebuah perkumpulan dan badan pemerintahan. Kedua, merujuk kepada proses pengorganisasian yaitu bagaimana pekerjaan diatur dan dialokasikan di antara para anggota, sehingga tujuan organisasi itu dapat tercapai secara efektif. Sedangkan organisasi itu sendiri diartikan sebagai kumpulan orang dengan sistem kerja sama untuk mencapai tujuan bersama.
Hicks & Gullen (1981:321) mengatakan bahwa organisasi adalah kegiatan membagi-bagi tugas, tanggung jawab dan wewenang di antara sekelompok orang untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Sedangkan menurut Pierce I dan Robinson (1989:296) organisasi adalah proses membentuk hubungan-hubungan yang esensial di antara orang-orang, tugas-tugas dan aktivitas-aktivitas dengan cara mengintegrasikan dan mengkoordinasikan semua sumber organisasi kearah pencapaian suatu tujuan secara efektif dan efisien.
a. Ciri-Ciri Organisasi
- Organisasi sebagai suatu sistem, yaitu adanya seperangkat unsur yang saling bergantung dan saling berhubungan antara yang satu dengan yang lainnya
- Organisasi merupakan struktur, adanya suatu kadar formalitas dan pembagian tugas dan tanggung jawab yang harus dijalankan oleh anggota kelompok
- Adanya perencanaan yang dilakukan secara sadar berdasarkan rasionalitas dan pedoman-pedoman yang jelas
- Adanya koordinasi dan kooperasi yang baik diantara orang-orang yang bekerja sama, menunjukkan bahwa tindakan-tindakan orang-orang tersebut berjalan kearah suatu tanggung jawab tertentu.
b. Tujuan Organisasi
Tujuan adalah arah atau sesuatu yang ingin dicapai atau dipengaruhi yang menjadi sebab dilaksanakannya suatu kegiatan. Untuk mencapai tujuan, suatu organisasi menggunakan berbagai upaya. Tujuan organisasi pada hakikatnya merupakan intergrasi dari berbagai tujuan baik yang sifatnya komplementer yaitu tujuan individu atau anggota organisasi, maupun tujuan yang sifatnya substantif, yaitu tujuan organisasi secara keseluruhan. Tujuan substantif merupakan tujuann pokok organisasi yang menjadi sebab utama dibentuknya suatu organisasi. Oleh sebab itu, kegiatan-kegitan organisasi diarahkan kepada dua dimensi tujuan, yaitu:
- Tercapai tujuan organisasi secara efektif dan efisien. Keefektifan adalah yang berhubungan dengan tujuan organisasi baik secara iksplitis maupun implisit. Efisiensi adalah berhubungan dengan rasio output dengan input atau keuntungan dengan biaya. Adakalanya tujuan dapat dicapai secara efektik, tetapi tidak efisien, artinya tujuan dapat dicapai tetapi terjadi pemborosan tenaga, bahan dan waktu. Sebaliknya, bisa terjadi tujuan tersebut dicapai secara efisien dan efektif.
- Tercapainya kepuasan dari anggota organisasi. Dalam proses pencapaian tujuan organisasi, setiap orang atau anggota yang bekerja atau terlibat dalam aktivitas organisasi harus diberikan kepuasan, sehingga mereka merasa sebagai anggota organisasi, dan hal tersebut akan mendorong orang tersebut untuk bekerja dalam kondisi dan motivasi yang produktif.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dalam pengembangan dan pengelolaan lembaga pendidikan Islam, maka unsur-unsur atau komponen-komponen yang ikut andil dalam mempengaruhi tidak bisa dipisahkan satu sama lainnya, karena satu sama lain saling berhubungan dan berkaitan dalam memaju lembaga pendidikan. Komponen-komponen tersebut antara lain, kepemimpinan, manajemen, administrasi dan organisasi. Empat komponen ini, dalam pandangan penulis, saling berhubungan dalam mengembangkan lembaga pendidikan terutama pengembangan sumber daya manusainya.
Dalam pengelolaan organisasi, kepemimpinan, administrasi dan manajemen saling berkaitan dalam mencapai tujuan-tujuan yang telah direncanakan pada pengembangan organisasi tersebut. Oleh karena itu, berdasarkan penjelasan di atas, dapat penulis simpulkan secara umum, antara lain yaitu:
- Hubungan antara kepemimpinan, manajemen, administrasi dan organsiasi sangat berkaitan erat terhadap pengembangan lembaga pendidikan terutama pengembangan disektor sumber daya mansusia.
- Dalam suatu organisasi, perencanaan merupakan langkah awal untuk mencapai tujuan berdasarkan visi dan misi organisasi tersebut.
- Untuk mengembangan lembaga pendidikan/organisasi, maka keberadaan penggerakan (actuating) sangat penting dalam mencapai tujuan bersama yang telah ditetapkan. Maju dan berkembangnya suatu lembaga pendidikan/organisasi sangat tergantung dengan fungsi manajemen yang berhubungan dengan penggerakan. Apabila fungsi ini berjalan dengan efektif dan efisen, maka akan bertampak terhadap pengembangan organisasi dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
DAFTAR RUJUKAN
Fattah, Nanang. 2009. Landasan Manajemen Pendidikan Islam. Bandung: Remaja Rosdakarya
Marno, Triyo Supriyatno. 2008. Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan Islam. Bandung: Refika Aditama
Silalahi, Ulbert. 1997. Study Tentang Ilmu Administrasi: Konsep Teori dan Dimensi.Bandung: Sinar Baru Algensindo
Simbolon, Maringan, Masry. 2003. Dasar-Dasar Administrasi dan Manajemen. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Wahjosumidjo. 2005. Kepemimpinan Kepala Sekolah: Tinjauan Teoritik dan Permasalahannya. Jakarta: RajaGrafindo Persada
[1] Marno, Triyo Supriyatno, Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan Islam, Bandung: Refika Aditama, 2008, hlm. 32
[2] Wahjosumidjo, Kepemimpinan Kepala Sekolah, Tinjauan Teoritik dan Prmasalahannya, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2005, hlm. 84
[3] Nanang Fattah, Landasan Manajamen Pendidikan, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2009, hlm. 88
[4] Maringan Masry Simbolon, Dasar-Dasar Administrasi dan Manajemen, Jakarta: Ghalia Indonesia, 2003, hlm. 23
[5] Marno, Triyo Supriyatno, Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan Islam, Bandung: Refika Aditama, 2009, hlm. 13
[6] Dr. Nanang Fattah, Landasan Manajemen Pendidikan, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2009, hlm. 71
[7] Marno, Triyo Supriyatno, ibid, hlm. 16
[8] Marno, Triyo Supriyatno, op.cit., hlm. 20-21
[9] Dr. Nanang Fatah, ibid, hlm. 101
[10] Nanang Fattah, op.cit., hlm. 33